Loka Karya: Pengembangan Model Gugusdepan

Selamat buat kak Ike dan kak Imbar yang terpilih sebagai perwakilan Kwartir Cabang Sidoarjo untuk mewakili kegiatan ini.

Loka Karya

Loka Karya

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Penilitian dan Pengembangan (LITBANG) Kwartir Daerah Jawa Timur ini, banyak dibahas tentang bagaimana kepramukaan dulu dan sekarang ataupun kepramukaan yang berlaku di sini (Indonesia) dan di seluruh dunia yang notabene tercatat banyak kepincangan dalam penerapan pendidikan kepramukaan kepada peserta didik yang dalam hal ini terfokus pada golongan Penggalang.
Di antara kepincangan-kepincangan yang paling sering terjadi adalah dominasi kegiatan lebih cenderung peserta didik didikte oleh pembinanya. Hal ini ternyata juga terjadi di SMP Negeri 4 Sidoarjo. Termasuk di antaranya pengaruh dominan dari sistem pendidikan yang berlaku pada saat yang berlangsung saat ini. Di mana sistem kepramukaan bukan lagi merupakan kegiatan pendidikan independen yang berbasis alam terbuka melainkan kegiatan yang berbasis klasikal. Misal contoh: dalam pembentukan kelompok belajar di pramuka lebih beracuan kepada kelompok kelas dari peserta didik di sekolahnya dan bukan lagi regu yang seperti diajarkan dalam sistem kepramukaan. Selain itu program kerja di dewan penggalang saat ini lebih didominasi oleh pembina pramuka padahal seharusnya program kerja adalah mengikuti selera, bakat, minat dan kesukaan peserta didik selama yang diinginkannya itu positif. Sehingga dalam keadaan tersebut peserta didik hanya merupakan obyek dari pembina bersangkutan yang seharusnya peserta didik adalah subyek yang mestinya dapat menentukan langkah dan kemauan mereka untuk berkembang dan bertumbuh. Hal ini berakibat kurangnya minat peserta didik untuk mengikuti kegiatan kepramukaan. Dan juga hilangnya kebanggan mereka terhadap diri sendiri apabila mereka menjadi anggota pramuka. Kondisi seperti ini membuat mereka lebih cenderung untuk memilih ‘ekstra kurikuler’ yang lain yang menurut mereka adalah bakat dan kesenangan mereka.
Sungguh tragis nasib kepramukaan di Indonesia. Padahal di luar negeri seperti Amerika, seorang anak yang menjadi anggota BSA (Boy Scout of America, Kepanduan Amerika, red) yang mampu mendapat predikat Eagle Scout (Pramuka Garuda, red) namanya akan dipampang di balai kota dan akan dibanggakan oleh setiap orang di kotanya.
Kegiatan untuk pembina ini dilaksanakan dua kali di mana yang kedua akan diadakan sekitar 13-15 Maret 2009 yang pada akhirnya dilanjutkan dengan kegiatan Camporee yang selain pembina juga akan dihadiri oleh adik-adik hasil proses pengembangan sesuai dengan yang dibahas dalam loka karya ini.
Kita berharap bahwa dalam kegiatan yang berkelanjutan sampai dengan bulan Maret 2010 ini, kita akan berhasil memperbarui sistem pengajaran dan pendidikan kepramukaan di sekolah kita ini. Sehingga pada akhirnya, gugus depan kita akan mendapat predikat gugus depan terbaik di Jawa Timur.

6 comments on “Loka Karya: Pengembangan Model Gugusdepan

  1. Ping-balik: SMP NEGERI 4 SIDOARJO | smpn4sdazulfafitria9b35

  2. Ping-balik: Sebuah Renung untuk Kita semua « Spenivda Scout Community

  3. Terima kasih banyak kak Imbro,memang sering kita rasakan,seola – ola lomba adalah puncak segalanya kadang kala kita semua membabi buta untuk merebut juara dan sering lupa dengan keadaan generasi kita,Kami semua di Smetarigala masih terus berbenah,terus terang kami masih tertinggal jauh dari Gugusdepan – gugusdepan yang ada saat ini,kami baru 5 tahun ini menata diri dan sekali lagi terima kasih banyak,semoga kita semua bisa membina generasi muda dengan mental dan karakter yang kuat.

  4. Salam juga buat kak SIS.

    Sebenarnya tidak ada yang baru dengan kegiatan loka karya itu. Cuma yang paling mendasar adalah mengembalikan citra pramuka di masyarakat dan sistem pengajaran dan pendidikan di pramuka seperti halnya yang telah diajarkan oleh Lord Baden Powell of Gillwell, di mana peserta didik adalah yang paling menentukan dalam pendidikan kepramukaan, termasuk dalam cara pengajaran yang beracuan langsung pada keinginan mereka. Hal ini karena sistem pendidikan kepramukaan yang sekarang lebih didasarkan pada keinginan pembina dan bukan peserta didik.
    Sementara itu fungsi pembina hanya fasilitator dan bukan perencana. Sehingga pembina hanya mengarahkan bukannya menentukan. Di situ juga dijelaskan peserta didik yang menentukan hari/minggu ini kegiatan apa, di mana dsb; sedang pembina hanya menyiapkan kira-kira unsur edukasi apa yang bisa diselipkan dalam kegiatan yang direncanakan pesdik tsb.
    Yang lebih ironi lagi, kebanyakan saat sekarang pendidikan kepramukaan hanya diarahkan untuk bisa menang dalam suatu kegiatan yang bersifat prestasi dan bukan perbaikan mental, spiritual maupun skill sebagaimana yang diajarkan oleh Bapak Pandu Dunia. Sehingga mereka tidak siap mental jika harus mengalami kekalahan dalam suatu kegiatan semacam itu (biasanya pembinanya juga merasa demikian).
    Bagi mereka (mungkin termasuk saya), kemenangan adalah segalanya dan kekalahan adalah memalukan. Sehingga pada akhirnya yang diajarkan hanya MENANG, MENANG dan MENANG! Bukannya bagaimana menjadikan seorang anak yang kuat mental menghadapi masalah, patuh dan hormat kepada orang tua dan guru, bersedia melakukan kegiatan yang bersifat pelayanan dan pengabdian masyarakat serta yang tak kalah pentingnya : KETAKWAAN TERHADAP TUHAN YME (Dasa Darma pertama).

    Mungkin itu dulu yang bisa saya bagi buat Kak Sis dan (pembina) Pramuka yang lain.

  5. Salam Damai dari bumi Pawiyatan Smetarigala…bagaimana kabarnya kak Imbro.?.bagi ilmunya ke Smetarigala yach…salam buat semuanya,tetap semangat dalam membina Generasi Muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s